Pada awal hari, ketika kabut embun masih setia menempel dan membasahi setiap pucuk daun kelapa yang menjulang tinggi, sementara lantunan suara merdu burung rangkong memecah keheningan yang damai di Desa Tumih, sebuah wilayah administratif yang terletak di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala. Desa ini menyimpan sejarah panjang, menjadi saksi bisu atas proses waktu yang terus berjalan; sebuah perjalanan hidup yang seringkali tidak menunjukkan keramahan, khususnya bagi komunitas masyarakat yang mengabdikan seluruh tenaga dan harapan mereka pada lahan pertanian yang mereka kelola dengan susah payah.
Kondisi infrastruktur jalan desa menjadi momok yang tak terhindarkan: saat musim penghujan tiba, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur yang pekat dan sulit dilalui, sementara di musim kemarau panjang, debu tebal menjadi teman setia yang selalu menyertai setiap langkah. Fenomena ini secara rutin menjadi hambatan serius. Para ibu rumah tangga harus berjuang keras, sandal mereka seringkali terbenam dalam genangan lumpur yang licin. Para petani, dengan keringat membasahi punggung, harus memikul hasil panen mereka yang berat, seolah-olah mereka sedang menggendong janji-janji kemakmuran yang belum sepenuhnya terwujud hingga mencapai pasar di pusat kota. Bahkan, sebagian dari generasi muda desa ini—para siswa sekolah—pernah mengalami secara langsung realitas pahit tersebut: seragam yang ternoda basah oleh cipratan lumpur, sepatu yang terbalut tanah liat, namun semangat untuk meraih pendidikan tinggi harus tetap dijaga dan dikejar tanpa kompromi.

Di tengah rentetan kisah perjuangan tersebut, sebuah berita menggembirakan mulai menyebar luas, membawa angin segar yang dinanti-nantikan. Kabar ini menghubungkan langsung denyut nadi masyarakat dengan kehadiran sosok-sosok berseragam loreng: program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang memasuki gelombang ke-126, yang dilaksanakan oleh Kodim 1005/Barito Kuala, hadir sebagai jawaban nyata atas kebutuhan mendasar yang selama ini hanya mampu mereka panjatkan dalam bentuk doa.

Loreng yang Datang Membawa Kedekatan Tanpa Ada Sekat Pemisah
Ketika deru keras alat-alat berat mulai terdengar dan langkah tegap para prajurit mulai menjejakkan kaki di tanah Desa Tumih, terasa ada transformasi signifikan yang mulai menyelimuti suasana. Warga desa berbondong-bondong keluar dari kediaman mereka masing-masing, menunjukkan respons positif berupa anggukan kepala penuh penghargaan, senyuman tulus, bahkan tak sedikit yang mengulurkan tangan untuk menepuk bahu para prajurit—sebuah gestur komunikasi yang tidak memerlukan banyak kata, namun sarat akan makna mendalam.
Tidak ada lagi garis pemisah yang kentara antara rakyat sipil dan anggota Tentara Nasional Indonesia. Di tengah hamparan sawah yang subur, di area dapur umum yang sibuk menyiapkan santapan, bahkan di pinggiran jalan tanah yang sedang diperbaiki—mereka semua duduk bersama, berbagi makanan dan cerita.
Inilah perwujudan sejati dari semangat kemanunggalan yang terimplementasi dalam bentuk yang paling murni dan sederhana: TNI tidak hanya sekadar hadir sebagai tamu atau pelaksana proyek; mereka benar-benar menyatu dengan ritme kehidupan masyarakat setempat.

Air Bersih: Sebuah Manifestasi Harapan yang Mulai Menetes dari Bumi
Selama rentang waktu yang cukup lama, kehidupan masyarakat Desa Tumih sangat bergantung pada sumber daya air dari sungai terdekat. Air sungai tersebut seringkali memiliki karakteristik asam dan tampak keruh, namun mau tidak mau tetap menjadi satu-satunya medium utama untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci pakaian, hingga proses memasak makanan. “Jika untuk kebutuhan minum yang layak, kami terpaksa harus membeli dari kota,” demikian pengakuan seorang ibu rumah tangga, sambil tangannya mengelus wadah ember yang masih kosong, menyiratkan keterbatasan yang ada.
Di sinilah peran TMMD membawa dimensi makna yang jauh lebih substansial—bukan hanya sekadar pembangunan fisik berupa jalan, tetapi juga revitalisasi kualitas kehidupan.

Melalui implementasi Program TNI Manunggal Air Bersih (TMAB), sebanyak lima titik sumur bor strategis berhasil didirikan dan dioperasikan. Setiap tetes air jernih yang berhasil dipancarkan dari kedalaman bumi bukan sekadar zat H2O biasa; ia merepresentasikan tegaknya harga diri warga, peningkatan standar kesehatan publik, dan investasi penting bagi masa depan anak cucu mereka.
Terdengar riuh tawa kegembiraan ketika sumur-sumur tersebut pertama kali diuji coba fungsinya. Ada pula mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru. Terbukti bahwa air bersih mampu menjadi medium yang membawa serta rasa syukur yang mendalam.

Rumah yang Berhasil Kembali Menjadi Tempat Berlindung yang Layak
Di salah satu sudut desa, berdiri sebuah rumah kayu tua yang menjadi milik Bapak Salamun. Kondisinya sangat memprihatinkan: plafon telah berlubang memperlihatkan langit, lantai kayu terasa rapuh diinjak, dan celah-celah dinding memungkinkan suara angin dingin untuk menyelinap masuk tanpa hambatan. Salamun, yang merupakan salah satu perintis transmigran dengan tanggung jawab membesarkan lima orang anak, hanya bisa bersikap pasrah—mengingat rezeki yang ia peroleh terkadang datang sangat lambat, seolah mengikuti laju aliran sungai yang tidak pernah deras.
Hal serupa juga dialami oleh Bapak Zaini, seorang figur sesepuh yang menghabiskan hari-harinya dalam kesederhanaan yang terasa begitu sunyi dan sepi.

Berkat intervensi dan kerja keras dari Satuan Tugas (Satgas) TMMD, material kayu yang rapuh kini bertransformasi menjadi tiang-tiang penopang harapan baru. Setiap kali paku dipukul ke dalam kayu, suara itu seolah menjadi irama baru bagi kebangkitan semangat hidup. Dinding rumah yang kini berdiri kokoh memberikan rasa aman, memungkinkan kedua keluarga tersebut untuk kembali menempati hunian mereka dengan martabat dan ketenangan yang telah lama hilang.

Jalan yang Kini Bukan Lagi Sekadar Lintasan Fisik
Kini, ketika berbicara mengenai jalan di Desa Tumih, ia tidak lagi menjadi sebuah narasi kelam tentang lumpur yang menggenang atau potensi terendam saat hujan deras mengguyur. Jalan tersebut telah berevolusi menjadi urat nadi vital bagi pergerakan ekonomi, siap untuk mengalirkan seluruh hasil panen dan komoditas pertanian menuju pasar yang lebih luas. Ia telah menjadi jembatan penghubung yang nyata antara cita-cita luhur dan realitas yang dapat disentuh.
Jika dahulu warga desa harus berjalan dengan langkah yang terasa berat dan penuh beban, kini setiap langkah mereka terasa lebih ringan, membawa hasil kebun dengan semangat baru, dan membawa optimisme akan masa depan yang lebih cerah.

TNI dan Rakyat: Sebuah Ikatan yang Tidak Akan Pernah Terputus
TMMD jauh melampaui definisi sebuah program pembangunan biasa. Ia adalah penegasan sebuah janji bahwa pemerataan akses pembangunan bukanlah sekadar retorika kosong atau slogan politik. Ia adalah manifestasi nyata dari pelukan hangat negara kepada seluruh rakyatnya, termasuk mereka yang berada jauh dari gemerlap dan hiruk pikuk kehidupan perkotaan.

Di Desa Tumih, warna loreng seragam TNI tidak hanya melambangkan kekuatan militer—tetapi ia menjelma menjadi simbol nyata dari kepedulian dan empati yang tulus.
Dan ketika seluruh rangkaian kegiatan proyek fisik ini telah selesai dilaksanakan dan diresmikan, jalan yang telah diperbaiki akan tetap berdiri kokoh, rumah-rumah yang direnovasi akan terus menjadi tempat bernaung, sumber air bersih akan terus mengalirkan kehidupan, serta kenangan indah tentang semangat gotong royong yang terjalin akan selamanya terpatri abadi di relung hati setiap warga desa.
Sebab, esensi keberadaan TNI sesungguhnya bukanlah semata-mata sebagai penjaga kedaulatan negara—tetapi mereka adalah saudara kandung, bagian dari keluarga besar, dan sahabat sejati bagi rakyatnya.

