Kapasitas 1.500 Liter per Detik untuk 900 Ribu Jiwa, PTMB Akui Balikpapan Butuh Tambahan Sumber Air Skala Besar

BALIKPAPAN – Di tengah pertumbuhan penduduk yang mendekati 900 ribu jiwa, kapasitas produksi air bersih Kota Balikpapan saat ini masih berada di angka sekitar 1.500 liter per detik. Angka ini dinilai cukup menantang untuk menjamin pemerataan layanan dalam jangka panjang.

Direktur Utama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), Yudhi Saharuddin, mengakui bahwa optimalisasi produksi dan distribusi saja tidak akan cukup jika tidak diikuti penambahan sumber air baku berskala besar.

“Untuk jangka pendek kami tambah dari sumur-sumur baru dan tambahan SIPA 50 liter per detik. Tapi untuk jangka panjang memang perlu sumber air baku skala besar,” ujarnya.

Menurut Yudhi, proyek besar seperti pembangunan sumber air baku baru membutuhkan investasi yang tidak sedikit dan telah masuk dalam rencana jangka menengah hingga panjang perusahaan.

Sebagai perbandingan, ia menyebut PDAM Kota Malang yang memiliki sekitar 200 ribu pelanggan dengan kapasitas produksi sekitar 1.600 liter per detik. Optimalisasi di kota tersebut didukung sistem distribusi berbasis gravitasi, yang membuat efisiensi lebih tinggi dan tingkat kehilangan air (NRW) hanya sekitar 14–16 persen.

Berbeda dengan Balikpapan yang bertopografi berbukit, distribusi air sangat bergantung pada sistem pompa, mulai dari intake hingga ke jaringan pelanggan di dataran tinggi. Sistem ini meningkatkan kompleksitas manajemen tekanan dan risiko kebocoran.

“Kalau tekanannya dinaikkan untuk mendorong debit, risiko kebocoran juga meningkat. Itu yang harus kami kelola hati-hati,” jelasnya.

Saat ini tingkat NRW PTMB masih berada di angka 28 persen. Targetnya ditekan menjadi 20–21 persen agar efisiensi distribusi meningkat dan kapasitas yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Yudhi menegaskan, pihaknya berkomitmen tidak membebani APBD melalui penyertaan modal besar di tengah kondisi fiskal daerah yang juga dalam tahap efisiensi. Berdasarkan analisis internal, kemampuan finansial perusahaan dinilai masih cukup hingga 2029 untuk melakukan optimalisasi layanan.

Namun, ia tidak menutup kemungkinan kolaborasi lebih besar dengan pemerintah pusat maupun provinsi untuk mendukung pembangunan infrastruktur air baku jangka panjang.

“Kalau Balikpapan ingin benar-benar aman dari krisis air di masa depan, maka investasi sumber air baku tidak bisa ditunda terlalu lama,” tegasnya.

Dengan target penambahan 12 ribu sambungan rumah baru pada 2026, tantangan ketersediaan air baku menjadi isu strategis yang harus diselesaikan secara bertahap dan terencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *