Produksi Minyak Terus Turun, Indonesia Hadapi Tantangan Migas

BALIKPAPAN – Penurunan produksi minyak nasional menjadi persoalan struktural yang masih membayangi industri minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Minimnya penemuan cadangan baru yang signifikan serta dominasi lapangan minyak tua membuat produksi sulit mengejar peningkatan konsumsi dalam negeri.

 

Managing Director Pertamindo, Alexander Ginting, menjelaskan sebagian besar produksi minyak Indonesia saat ini berasal dari lapangan-lapangan yang telah beroperasi selama puluhan tahun atau masuk kategori mature field.

 

Kondisi tersebut membuat produksi mengalami penurunan secara alamiah seiring bertambahnya usia lapangan.

 

Ia mencontohkan Blok Rokan yang dikelola Pertamina Hulu Rokan. Lapangan minyak tersebut telah beroperasi sejak 1952 dan pernah mencatat produksi hingga ratusan ribu barel per hari.

 

Namun, seiring berjalannya waktu, kemampuan produksinya terus menurun meskipun berbagai upaya peningkatan produksi telah dilakukan.

 

Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah lapangan migas lainnya, termasuk lapangan yang dikelola ExxonMobil.

 

“Secara natural, memang begitulah sifat lapangan minyak dan gas. Ada mulai naik produksinya, kemudian mendatar, lalu pada satu saatnya akan menurun,” jelas Alexander.

 

Menurutnya, persoalan semakin kompleks karena dalam kurun waktu sekitar 10 hingga 15 tahun terakhir, Indonesia belum menemukan lapangan minyak baru dengan kapasitas produksi yang cukup besar untuk menggantikan penurunan dari lapangan-lapangan eksisting.

 

Sejumlah lapangan baru yang tengah dikembangkan diperkirakan hanya mampu menghasilkan sekitar 20 ribu hingga 30 ribu barel per hari. Angka tersebut masih jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai jutaan barel setiap hari.

 

Alexander menyebut sekitar 70 persen produksi minyak Indonesia berasal dari lapangan yang sudah memasuki fase penurunan produksi.

 

Karena itu, strategi industri migas saat ini tidak hanya berorientasi meningkatkan produksi, tetapi juga menahan laju penurunan melalui penerapan berbagai teknologi dan metode pengelolaan lapangan.

 

SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan produksi dari lapangan-lapangan yang masih beroperasi.

 

“Bisnis SKK Migas dan KKKS sekarang dalam hal minyak adalah menaikkan produksi, tetapi juga berusaha menahan laju penurunan,” katanya.

 

Alexander memperkirakan Indonesia masih akan menghadapi ketergantungan impor minyak setidaknya dalam lima tahun ke depan. Pasalnya, penemuan cadangan baru membutuhkan waktu panjang sebelum dapat dikembangkan menjadi sumber produksi komersial.

 

Di sisi lain, ia menilai gas bumi memiliki posisi strategis sebagai energi transisi menuju penggunaan energi yang lebih bersih.

 

Gas dinilai memiliki tingkat emisi lebih rendah dibandingkan minyak dan batu bara, sehingga dapat menjadi salah satu penopang kebutuhan energi selama proses peralihan menuju energi terbarukan seperti tenaga surya, air, dan angin.

 

Menurutnya, tantangan industri migas ke depan adalah menjaga keberlanjutan pasokan energi sekaligus menyesuaikan arah kebijakan dengan kebutuhan transisi energi nasional.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *