BALIKPAPAN – Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional. Kesenjangan antara produksi dan konsumsi yang terus melebar membuat Indonesia harus mengeluarkan devisa besar untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Managing Director Pertamindo, Alexander Ginting, mengatakan energi memiliki peran strategis dalam menopang seluruh aktivitas ekonomi suatu negara. Ia mengibaratkan energi seperti darah dalam tubuh manusia yang memungkinkan seluruh organ bekerja dan menjalankan fungsinya.
Menurutnya, kelangkaan energi dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat hingga melumpuhkan perekonomian suatu daerah.
Alexander mencontohkan kondisi kelangkaan BBM yang terjadi di Bali dalam beberapa waktu terakhir. Situasi tersebut memicu antrean panjang masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar, bahkan disebut mencapai belasan hingga 20 jam.
“Energi dalam suatu negara adalah sumber daya yang memungkinkan kita menjalankan kegiatan dan aktivitas ekonomi sehari-hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan energi nasional berkaitan dengan tiga aspek utama atau dikenal sebagai energy trilemma. Ketiganya meliputi ketahanan pasokan energi, keterjangkauan harga dan pemerataan distribusi, serta keberlanjutan lingkungan.
Dalam aspek ketahanan energi, Indonesia dituntut mampu memenuhi kebutuhan energi secara cukup dan berdaulat. Sementara dari sisi pemerataan, energi harus dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat dengan harga yang terjangkau.
Adapun aspek keberlanjutan berkaitan dengan upaya menyediakan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan melalui percepatan transisi energi.
Alexander memaparkan, produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan, sementara konsumsi domestik justru meningkat. Kondisi tersebut membuat Indonesia beralih dari negara eksportir menjadi importir minyak sejak 2004.
Ia menyebut, Indonesia pernah mencatat produksi minyak sekitar 1,6 juta barel per hari pada masa puncaknya. Namun, produksi kemudian terus menurun hingga berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sedangkan konsumsi mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari.
Kesenjangan tersebut membuat Indonesia harus mengimpor minyak mentah untuk diolah di kilang dalam negeri, sekaligus mengimpor BBM karena kapasitas pengolahan nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan.
Di samping itu, Indonesia juga masih bergantung pada impor LPG.
“Jadi, bisa dibayangkan betapa masifnya devisa yang harus kita gunakan untuk menambal kekurangan minyak, BBM, dan LPG kita,” jelasnya.
Ketergantungan impor juga membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Alexander mencontohkan, ketika harga minyak meningkat dari asumsi sekitar 70 dolar AS menjadi 112 dolar AS per barel, beban impor energi nasional ikut membengkak.
Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan produksi domestik, pengendalian konsumsi BBM, serta diversifikasi sumber energi.
Ia menegaskan, persoalan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi dan kedaulatan bangsa.

