Pertamina RU V Perkuat Budaya Keselamatan Pekerja Kontraktor

BALIKPAPAN – PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) V Balikpapan memperkuat budaya keselamatan kerja bagi pekerja yang terlibat dalam pelaksanaan Stop Unit Heavy Vacuum Unit (HVU) III 2026.

Penguatan tersebut dilakukan melalui Safety Leadership Program (SLP) 4.0 yang mengusung tema “Stop Unsafe Act, Start Safe Action” di Ulin Mainhall, Kompleks Banua Patra, Balikpapan, pada 15 September 2026.

Program ini diikuti jajaran manajemen, section head, perwira Pertamina, hingga pekerja kontraktor yang terlibat dalam pekerjaan Stop Unit HVU III.

Melalui kegiatan tersebut, para pekerja mendapatkan penguatan terkait penerapan Health, Safety, Security & Environment (HSSE), kepemimpinan keselamatan, hingga langkah pencegahan terhadap potensi bahaya di lingkungan kerja.

General Manager PT Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan, Novie Handoyo Anto, menegaskan keselamatan harus tetap menjadi prioritas, termasuk dalam pekerjaan yang memiliki tingkat urgensi dan kompleksitas tinggi.

“Tidak ada pekerjaan yang begitu mendesak sehingga kita boleh mengabaikan keselamatan. Setiap pekerja memiliki tanggung jawab untuk memastikan pekerjaan dilaksanakan dengan aman, sesuai prosedur dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” ujar Anto.

Menurutnya, penguatan budaya keselamatan tidak hanya dilakukan melalui pemahaman terhadap prosedur, tetapi juga dengan membangun keberanian pekerja untuk bertindak ketika menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.

Salah satunya melalui penerapan Stop Work Authority (SWA). Mekanisme ini memberikan kewenangan kepada setiap pekerja untuk menghentikan sementara pekerjaan apabila menemukan kondisi tidak aman atau potensi bahaya.

“Keselamatan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu orang atau satu fungsi. Setiap orang memiliki peran untuk saling mengingatkan dan memastikan pekerjaan dilakukan dengan cara yang aman,” katanya.

“Ketika menemukan kondisi yang tidak aman, jangan ragu untuk menghentikan pekerjaan dan menyampaikannya kepada pihak terkait,” lanjut Anto.

Dalam pelaksanaan Stop Unit HVU III, penerapan Corporate Life Saving Rules dan HSSE Golden Rules Pertamina juga menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan seluruh pekerja.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan, Dodi Yapsenang, mengatakan budaya keselamatan perlu dibangun melalui komunikasi yang konsisten serta keterlibatan seluruh pihak, termasuk pekerja kontraktor.

“Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui kepedulian, komunikasi, dan keberanian untuk saling mengingatkan,” ujar Dodi.

Ia mengatakan, SLP 4.0 diharapkan tidak berhenti pada pemahaman materi keselamatan, tetapi dapat diterapkan dalam perilaku sehari-hari selama pekerjaan berlangsung.

“Melalui Safety Leadership Program 4.0, kami ingin memastikan bahwa pesan keselamatan tidak hanya dipahami, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku setiap pekerja dalam menjalankan tugas sehari-hari,” katanya.

Dodi menambahkan, semangat Stop Unsafe Act, Start Safe Action juga mendorong terciptanya lingkungan kerja yang terbuka. Setiap pekerja diharapkan berani menyampaikan potensi bahaya dan mengambil tindakan pencegahan.

“Ketika setiap orang memiliki kepedulian untuk menjaga keselamatan dirinya dan rekan kerja, maka budaya keselamatan akan tumbuh semakin kuat,” ujarnya.

Ia berharap semangat tersebut terus dijaga hingga seluruh rangkaian pekerjaan Stop Unit HVU III 2026 selesai dengan aman.

Penguatan budaya keselamatan ini menjadi bagian dari upaya Pertamina RU V Balikpapan menjalankan pekerjaan dengan target zero incident, melalui kolaborasi antara perwira Pertamina dan pekerja kontraktor.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kepatuhan terhadap prosedur, keberanian menghentikan pekerjaan yang tidak aman, serta kepedulian untuk saling menjaga selama pekerjaan berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *