PONTIANAK — Dunia kerja berubah dengan cepat. Laptop yang dulu cukup menjadi perangkat untuk mengetik, mengolah data, membuka presentasi, hingga mengikuti rapat daring, kini dituntut mampu melakukan jauh lebih banyak.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlahan menjadi bagian dari rutinitas pekerjaan. Dari membantu menyusun dokumen, mengolah informasi, hingga mendukung produktivitas, kebutuhan terhadap perangkat komputasi pun ikut bergeser.
Di tengah perubahan itu, ASUS memperkenalkan ExpertBook Ultra, lini laptop bisnis yang membawa pendekatan berbeda: bukan sekadar perangkat kerja, melainkan perangkat yang dirancang untuk menjadi AI powerhouse.
Hal tersebut diperkenalkan dalam Pontianak Media Gathering yang dibawakan Commercial Technical PR ASUS, Said Dahda, dengan mengusung tanda pagar #ExpertBookPNK.
ExpertBook Ultra diposisikan sebagai laptop flagship untuk kalangan profesional dan bisnis, dengan tiga fondasi utama yang ditawarkan, yakni AI as a Teammate, Seamless Efficiency, dan Intelligent Security.
Tiga pilar tersebut menggambarkan bagaimana ASUS melihat kebutuhan pekerja di era AI. Perangkat tidak lagi hanya dituntut memiliki performa tinggi, tetapi juga mampu menjadi pendamping kerja yang efisien sekaligus memberikan perlindungan terhadap berbagai kebutuhan keamanan digital.
Dari Motherboard hingga AI Powerhouse
Perjalanan ASUS menuju era tersebut sebenarnya telah dimulai jauh sebelum istilah AI menjadi begitu populer.
Perusahaan teknologi asal Taiwan itu berdiri pada 1989. Produk pertama yang diluncurkan adalah motherboard ISA-386C, yang menjadi salah satu pijakan awal perjalanan ASUS di industri teknologi.
Lebih dari tiga dekade kemudian, portofolio ASUS berkembang jauh lebih luas. Produk-produknya mencakup perangkat konsumen hingga solusi komputasi untuk kebutuhan profesional dan enterprise.
Pada 2026, nama ASUS hadir melalui berbagai inovasi terbaru, termasuk Zenbook DUO dan ExpertBook Ultra.
Rekam jejak inovasi itu juga mendapat pengakuan dari berbagai ajang internasional. Dalam CES 2025, produk-produk ASUS meraih 14 CES Innovation Awards dan lebih dari 53 penghargaan dari media internasional.
Secara akumulatif, ASUS menyebut telah mengantongi lebih dari 80.000 penghargaan di seluruh dunia.
Pengakuan tersebut mencakup berbagai penghargaan desain dan inovasi bergengsi, antara lain iF Product Design Award dengan 345 penghargaan, Reddot Award sebanyak 362 penghargaan, serta Taiwan Excellence sebanyak 806 penghargaan.
Namun perjalanan inovasi ASUS tidak hanya berbicara mengenai performa dan desain.
Mengejar Performa, Mengejar Keberlanjutan
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, isu keberlanjutan juga menjadi bagian dari perjalanan ASUS.
Melalui Net Zero Roadmap, ASUS menargetkan pengurangan intensitas karbon sebesar 30 persen pada 2025.
Perusahaan juga menargetkan penggunaan 100 persen energi terbarukan di pusat operasinya di Taiwan pada 2030. Target penggunaan energi terbarukan kemudian diperluas ke seluruh pusat operasi global pada 2035.
Dalam jangka panjang, ASUS membawa visi mencapai Net Zero di seluruh rantai nilai pada 2050. Artinya, inovasi teknologi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan perangkat yang semakin cepat dan ringan, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Indonesia Menjadi Bagian dari Pertumbuhan
Di Indonesia, perjalanan ASUS dimulai sejak 2003.
Lebih dari dua dekade beroperasi di Tanah Air, ASUS kini didukung kantor pusat di Jakarta, 16 cabang, lebih dari 300 titik layanan servis, satu pabrik lokal atau ID Factory, serta lebih dari 300 karyawan.
Di pasar PC konsumen, ASUS mempertahankan posisi sebagai merek PC konsumen nomor satu di Indonesia selama 13 tahun berturut-turut.
Sementara di segmen bisnis, pertumbuhannya juga terlihat cukup signifikan.
Pangsa pasar ASUS Business meningkat dari enam persen pada 2024 menjadi 12 persen pada 2025. Memasuki kuartal pertama 2026, pangsa pasar tersebut kembali naik menjadi 17 persen dan menempatkan ASUS di peringkat ketiga.
Pada kuartal kedua 2026, angkanya kembali meningkat menjadi 18 persen dan membawa ASUS naik ke posisi kedua.
Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan semakin luasnya penggunaan solusi ASUS di berbagai sektor.
Di industri manufaktur, solusi ASUS telah digunakan oleh perusahaan seperti Indofood, Pegatron, dan Skintific. Di sektor pendidikan, perangkat ASUS digunakan oleh institusi seperti Ipeka dan berbagai sekolah lainnya.
Sementara sektor keuangan mencatat sejumlah mitra seperti BNI, Pegadaian, dan Bank Jateng.
Penggunaan solusi ASUS juga menjangkau sektor kesehatan, ritel seperti Indomaret dan Alfamart, hingga berbagai instansi pemerintahan.
Ketika Ringan Menjadi Kekuatan
Di Pontianak, perhatian kemudian diarahkan pada ExpertBook Ultra. Salah satu hal yang langsung menjadi daya tarik adalah material yang digunakan.
Laptop ini mengandalkan AZ31B Magnesium Alloy yang diproses dengan teknologi CNC. Material tersebut diklaim memiliki karakter ringan sekaligus memiliki durabilitas tinggi.
Hasilnya, ExpertBook Ultra dirancang dengan bobot mulai 0,99 kilogram dan ketebalan mulai 10,9 milimeter.
Angka tersebut membuat perangkat ini menyasar pengguna yang membutuhkan mobilitas tinggi—pekerja yang berpindah dari satu ruang rapat ke ruang lainnya, bepergian, bekerja dari berbagai lokasi, tetapi tetap membutuhkan performa komputasi yang tinggi.
ASUS menyebut perangkat tersebut 34 persen lebih ringan dibandingkan rata-rata laptop berbahan paduan aluminium standar. Namun, mengejar bobot ringan bukan berarti mengorbankan daya tahan.
Bodi yang Diuji Puluhan Ribu Kali
ExpertBook Ultra membawa teknologi ASUS Nano Ceramic, yang menggabungkan proses Plasma Electrolytic Oxidation atau PEO dengan Nano Ceramic Coating.
Teknologi tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan tambahan pada permukaan bodi.
Dalam pengujian, ASUS menyebut permukaan perangkat telah melewati simulasi hingga 60.000 siklus tekanan tangan untuk menguji ketahanannya terhadap abrasi.
Lapisan tersebut juga diklaim memiliki ketahanan gores kelas industri 9H, atau hingga lima kali standar industri pada umumnya.
Permukaannya dirancang lebih mudah dibersihkan dan memiliki karakter tahan terhadap noda serta sidik jari.
Dengan demikian, perangkat yang dibawa berpindah-pindah setiap hari tetap dirancang agar mampu mempertahankan tampilan sekaligus daya tahannya.
Mesin Kerja di Era AI
Di balik bodinya yang tipis dan ringan, ExpertBook Ultra membawa kemampuan komputasi yang menjadi bagian paling penting dari konsep AI powerhouse.
Perangkat ini ditenagai prosesor hingga Intel Core Ultra X9 388H, dipadukan dengan grafis Xe3 GPU yang mendukung hingga 12 Xe Cores.
Kemampuan pemrosesan AI-nya mencapai 50 NPU TOPS, sementara total performa platform diklaim mencapai 180 TOPS.
Kapasitas memorinya juga tersedia hingga 64GB 9600MT/s LPDDR5X.
Perangkat tersebut telah tersertifikasi sebagai Microsoft Copilot+ PC, menempatkannya dalam ekosistem komputer yang dirancang untuk memanfaatkan kemampuan AI secara lebih terintegrasi.
Bagi pekerja modern, kemampuan seperti ini bukan semata-mata tentang angka spesifikasi.
Lebih dari itu, performa tersebut diarahkan untuk mendukung aktivitas yang semakin bergantung pada AI—mulai dari produktivitas, pengolahan informasi, hingga berbagai kebutuhan komputasi profesional.
Bukan Lagi Sekadar Laptop
ASUS juga tidak menempatkan ExpertBook Ultra sebagai produk yang berdiri sendiri. Perusahaan membawa konsep total IT solution untuk kebutuhan bisnis dan enterprise.
Portofolionya mencakup laptop ExpertBook, All-in-One PC, desktop PC, motherboard, dan graphics card. Di sisi komputasi yang lebih tinggi, tersedia pula Edge AI Systems, workstation, Mini PC atau NUC, server, display solutions, business network solutions hingga Chromebox.
Pendekatan tersebut memperlihatkan perubahan cara melihat perangkat komputer di lingkungan bisnis. Laptop hanyalah salah satu bagian dari ekosistem. Di era ketika AI mulai menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari, kebutuhan perusahaan bergerak menuju sistem yang saling terhubung, aman, efisien, dan mampu mengikuti tuntutan komputasi yang terus berkembang.
Dan di titik itulah ExpertBook Ultra mencoba mengambil posisi, bukan hanya menjadi laptop yang ringan dibawa, bukan hanya menjadi perangkat dengan spesifikasi tinggi, Tetapi menjadi representasi bagaimana perangkat kerja mulai berevolusi—dari sekadar alat untuk menyelesaikan pekerjaan, menjadi bagian dari cara baru manusia bekerja bersama teknologi.

