Oleh : Muhammad Prawira Adhi N
Di batas utara Kotawaringin Timur, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi warga Desa Batu Agung, Tri Buana, dan Bukit Indah. Saat musim hujan tiba, jalan-jalan tanah di sana berubah menjadi kubangan lumpur pekat yang melumpuhkan nadi ekonomi warga. Jembatan kayu yang mulai rapuh harus ‘bertaruh nyawa’ setiap kali luapan air sungai dari hulu menyapu daratan, meninggalkan masyarakat dalam isolasi dan kecemasan akan banjir kiriman yang tak kunjung usai.
Bagi sebagian warga di pedalaman Kecamatan Antang Kalang, memiliki rumah dengan dinding yang kokoh atau akses air bersih di depan pintu adalah sebuah kemewahan yang lama dinanti. Di Desa Tri Buana dan sekitarnya, banyak keluarga masih bertahan di rumah-rumah yang tidak layak huni, berjuang melawan keterbatasan sanitasi, dan ancaman stunting yang membayangi masa depan anak-anak mereka. Desa-desa ini seolah menanti sentuhan perubahan untuk menarik mereka keluar dari jerat ketertinggalan infrastruktur dasar.
Terletak di jalur lintasan sungai yang rawan meluap, Desa Bukit Indah dan desa-desa tetangganya selama ini menjadi langganan banjir yang merusak segalanya mulai dari akses jalan hingga lahan pertanian. Tanpa drainase yang memadai dan aliran sungai yang tertutup pendangkalan, air hujan sering kali tertahan di badan jalan, menciptakan lubang-lubang dalam yang memutus akses transportasi antar-desa. Inilah potret wajah pedalaman Kotim hingga deru mesin kegiatan TMMD Ke-127 mulai terdengar memecah sunyi.
Harapan yang Datang Bersama Prajurit

Harapan itu hadir melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 yang mengusung tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.”
Sejak resmi dibuka pada 10 Februari 2026, Satgas TMMD Kodim 1015/Sampit langsung bergerak cepat. Dipimpin oleh Letnan Kolonel Infanteri Dwi Chandra Setiawan, para satgas TMMD bersama warga mulai mengerjakan berbagai sasaran pembangunan di Desa Batu Agung, Tri Buana, dan Bukit Indah.
Di sela-sela peninjauan pembangunan drainase di Desa Tri Buana, Dansatgas menegaskan bahwa kehadiran TNI di Antang Kalang bukan sekadar menjalankan tugas operasional.
“Kami hadir di sini bukan hanya untuk membangun jalan atau jembatan, tetapi untuk menghadirkan kembali senyum warga yang selama ini terkendala banjir dan lumpur,” ujarnya.
Menurutnya, tema Satukan Langkah menjadi panggilan bagi seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong membangun desa.
“Kami ingin memastikan setelah TMMD ini selesai, anak-anak tidak lagi kesulitan berangkat sekolah, dan ekonomi desa bisa bergerak lebih cepat karena akses yang sudah layak,” kata Letkol Inf Dwi Chandra Setiawan.
Selain pembangunan infrastruktur, masalah sanitasi dan kesehatan juga menjadi perhatian serius.
“Dengan pembangunan sumur bor dan rehabilitasi MCK, kami berharap kualitas kesehatan lingkungan meningkat. TNI ingin membangun desa ini dari hulu ke hilir mulai dari infrastrukturnya hingga kualitas sumber daya manusianya,” tambahnya.
Menata Ulang Nadi Transportasi Desa

Bagi masyarakat pedalaman Antang Kalang, jalan bukan sekadar jalur penghubung antar desa. Jalan adalah urat nadi kehidupan. Dari sanalah hasil kebun seperti karet, sawit, dan sayur mayur diangkut menuju pasar. Dari sanalah anak-anak menempuh perjalanan menuju sekolah, dan warga mengakses layanan kesehatan di kecamatan.
Namun selama bertahun-tahun, urat nadi itu kerap “tersumbat”. Saat hujan turun, jalan tanah berubah menjadi lumpur pekat yang membuat kendaraan nyaris tak bisa bergerak. Truk pengangkut hasil kebun sering terjebak berjam-jam, sementara sepeda motor warga harus dituntun melewati kubangan.
“Kalau hujan deras, kadang kami tidak berani lewat. Motor bisa terperosok, bahkan ada yang jatuh sampai barang belanjaannya tercecer,” cerita Sutrisno, salah seorang warga Desa Bukit Indah, sambil menunjuk bekas lubang dalam di badan jalan yang kini mulai ditimbun.
Penimbunan Jalan di Titik Strategis

Karena itulah, pemulihan akses transportasi menjadi fokus utama Satgas TMMD ke-127. Penimbunan jalan dilakukan di empat titik strategis satu titik di Desa Batu Agung dan tiga titik di Desa Bukit Indah.
Pekerjaan ini tidak sekadar meratakan tanah. Material pilihan berupa tanah keras dan batu dipadatkan secara bertahap untuk memperkuat struktur fondasi jalan yang selama ini mudah amblas akibat tekstur tanah yang labil serta lalu lintas kendaraan berat.
Di beberapa titik, alat berat bekerja sejak pagi hingga senja. Satgas TMMD Kodim 1015/Sampit dan warga bergotong royong meratakan material, memastikan badan jalan cukup kuat menahan beban kendaraan.
Bagi warga, perubahan itu mulai terasa bahkan sebelum proyek selesai.
“Dulu kalau bawa hasil kebun harus menunggu tanah agak kering. Sekarang sudah mulai enak dilalui,” ujar Jumadi, petani sawit dari Desa Batu Agung. Ia berharap jalan yang lebih kuat akan mempercepat perjalanan menuju pengepul di kecamatan.
Drainase Baru untuk Mengatasi Genangan

Tak hanya jalan, pembangunan drainase sepanjang 325 meter di Desa Tri Buana juga menjadi pekerjaan penting yang tengah dikebut Satgas TMMD.
Drainase ini dirancang sebagai jalur pembuangan air hujan agar tidak lagi menggenangi badan jalan. Selama ini, air hujan sering tertahan di permukaan jalan karena tidak memiliki saluran pembuangan yang memadai. Akibatnya, genangan air perlahan mengikis tanah hingga menciptakan lubang-lubang dalam yang berbahaya bagi pengendara.
Dengan adanya drainase baru, aliran air diarahkan langsung menuju saluran yang terhubung dengan sungai terdekat sehingga badan jalan diharapkan tetap stabil meski hujan turun dengan intensitas tinggi.
Normalisasi Sungai untuk Menjinakkan Banjir

Pekerjaan drainase tersebut disinergikan dengan normalisasi sungai di Desa Bukit Indah. Satgas TMMD melakukan pengerukan sedimen yang selama ini membuat sungai dangkal serta membersihkan semak yang menyempitkan aliran air.
Dengan sungai yang kembali terbuka, debit air diharapkan dapat mengalir lebih lancar dan mengurangi risiko banjir kiriman yang kerap merendam pemukiman warga.
Bagi masyarakat setempat, pemandangan prajurit yang bekerja di tepian sungai membawa rasa optimisme baru.
Rehabilitasi Jembatan, Menghapus Rasa Was-Was

Selain jalan dan sungai, jembatan kayu di Desa Tri Buana dan Batu Agung yang selama ini menjadi titik rawan juga mendapat perhatian khusus. Kayu-kayu yang telah lapuk dimakan usia diganti dengan material yang lebih kuat, sementara rangka penyangga diperkuat agar mampu menahan beban kendaraan yang melintas setiap hari.
Sebelumnya, banyak warga melintas dengan perasaan was-was setiap kali melewati jembatan tersebut.
“Kalau lewat jembatan lama, rasanya deg-degan. Apalagi kalau bawa motor yang berat,” kenang Ardi, seorang pemuda Desa Tri Buana.
Kini, perlahan rasa cemas itu mulai berganti dengan keyakinan bahwa akses antar desa akan jauh lebih aman.
Membangun Kualitas Hidup dari Rumah ke Rumah
Tak hanya soal akses jalan, TMMD ke-127 menyentuh aspek paling fundamental dari kesejahteraan manusia tempat tinggal dan sanitasi:
- Hunian Layak

Sebanyak 5 unit RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) di Desa Bukit Indah dan Tri Buana kini direhabilitasi secara menyeluruh oleh Satgas TMMD Kodim 1015/Sampit. Perbaikan dilakukan mulai dari mengganti atap yang sebelumnya bocor, memperkuat dinding rumah, hingga memperbaiki lantai agar lebih bersih dan layak dihuni. Program ini bertujuan membantu warga kurang mampu agar memiliki tempat tinggal yang sehat, aman, dan nyaman, sekaligus meningkatkan martabat serta kualitas hidup keluarga penerima manfaat.
Bagi para penerima bantuan, perubahan rumah ini membawa kebahagiaan tersendiri. Salah satunya dirasakan oleh Sutini, warga Desa Tri Buana, yang tak dapat menyembunyikan rasa harunya saat melihat rumahnya yang dulu rapuh kini berdiri lebih kokoh.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah membantu memperbaiki rumah kami. Dulu kalau hujan sering bocor dan kami khawatir rumahnya roboh. Sekarang rumah kami sudah jauh lebih baik dan nyaman untuk ditempati,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi warga seperti Sutini, program RTLH ini bukan sekadar pembangunan rumah, tetapi juga hadirnya harapan baru bagi keluarga mereka untuk hidup lebih layak dan tenang di masa depan.
- Air Bersih dan Sanitasi
Menjawab kesulitan warga akan air bersih saat kemarau, Satgas melakukan pengeboran di 5 titik sumur bor yang tersebar di wilayah strategis. Selain itu, pembangunan 4 unit MCK baru dan rehabilitasi MCK sekolah menjadi langkah nyata dalam memutus rantai penyakit akibat buruknya fasilitas sanitasi lingkungan.
- Fasilitas Ibadah
Kemanunggalan TNI juga terlihat dalam aspek spiritual. Sentuhan rehabilitasi pada gedung Gereja serta pembuatan tempat wudhu yang representatif di Mushola Desa Tri Buana dilakukan untuk memberikan kenyamanan dan kekhusyukan bagi warga dalam menjalankan ibadah.
Memperkuat Ketahanan Pangan dan Jiwa Bangsa
Sejalan dengan misi membangun negeri dari desa, program ini memberikan modal kemandirian serta perlindungan sosial bagi warga:
- Menghidupkan Lahan, Menguatkan Desa
Di Desa Tri Buana, Satgas TMMD bersama warga mulai menyulap lahan tidur seluas sekitar satu hektare menjadi kebun produktif yang ditanami berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Program ini menjadi langkah nyata untuk mendorong kemandirian pangan masyarakat, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa. Selain itu, Satgas juga memasang kolam terpal untuk budidaya sekitar 1.000 ekor bibit ikan, yang diharapkan dapat menjadi sumber protein keluarga sekaligus tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Penyerahan bibit ikan tersebut berlangsung bertepatan dengan kunjungan Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Mabesad yang dipimpin oleh Brigjen TNI Totok Sulistiyono, S.H., M.M., M.I.P. Dalam kesempatan tersebut, tim Wasev turut meninjau langsung berbagai sasaran kegiatan TMMD sekaligus memastikan program yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kehadiran tim Wasev juga menjadi penyemangat bagi warga dan Satgas yang bekerja bersama di lapangan. Dari lahan yang sebelumnya terbengkalai hingga kolam-kolam ikan yang mulai terisi bibit, program ketahanan pangan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Tri Buana untuk membangun kemandirian ekonomi dan memperkuat ketahanan pangan desa.
- Kesehatan dan Sosial

Perang terhadap stunting dilakukan secara nyata melalui pemberian 100 paket sembako nutrisi bagi anak-anak. Keguyuban warga pun pecah saat bakti sosial pengobatan gratis dan sunatan massal digelar, di mana para tenaga medis TNI melayani warga yang selama ini sulit mengakses fasilitas kesehatan karena jarak yang jauh.
- Wawasan Kebangsaan
Melalui kegiatan non-fisik, para prajurit masuk ke ruang-ruang diskusi masyarakat untuk memberikan penyuluhan terkait bela negara dan bahaya narkoba. Pelatihan khusus bagi pelaku UMKM lokal juga diberikan untuk membekali warga dengan strategi pemasaran modern agar produk desa mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Kemanunggalan Sejati dan Hangatnya Kebersamaan di Bulan Ramadhan

Keberhasilan seluruh rangkaian kegiatan fisik dan non-fisik TMMD di Kecamatan Antang Kalang tidak lepas dari peran aktif masyarakat setempat. Sejak hari pertama, warga Desa Batu Agung, Tri Buana, dan Bukit Indah menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Mereka bahu-membahu bersama Satgas TMMD Kodim 1015/Sampit, mulai dari membantu mengangkut material jembatan, membersihkan aliran sungai, hingga menyiapkan konsumsi bagi para prajurit yang bekerja di lapangan.
Semangat kebersamaan ini terasa semakin hangat ketika pelaksanaan TMMD bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Di sela-sela aktivitas pembangunan, prajurit dan warga kerap berkumpul untuk buka puasa bersama, berbagi hidangan sederhana namun penuh keakraban. Malam harinya, mereka juga melaksanakan salat tarawih berjamaah di mushola desa, menciptakan suasana kekeluargaan yang semakin mempererat hubungan antara Satgas TMMD dan masyarakat.
Kebersamaan tersebut seolah merealisasikan pesan Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati, S.Pd., saat menghadiri pembukaan TMMD pada 10 Februari 2026 lalu. Kala itu, ia menekankan bahwa TMMD adalah momentum penting bagi kemajuan desa yang harus disambut dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, TNI, dan masyarakat.
“TMMD bukan hanya milik TNI, tapi milik seluruh masyarakat Kotawaringin Timur. Saya berpesan agar warga memanfaatkan momen ini untuk bergotong royong dan menjaga apa yang telah dibangun bersama. Kebersamaan antara rakyat dan TNI adalah kunci utama untuk memutus rantai ketertinggalan di daerah kita,” ujar Irawati dalam sambutannya.
Kini, pesan tersebut benar-benar terwujud di lapangan. Pemandangan warga yang bekerja berdampingan dengan prajurit di lokasi penimbunan jalan atau pengerukan sungai menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Ditambah dengan kehangatan kebersamaan selama Ramadhan, sinergi antara kebijakan pemerintah daerah, komando Dansatgas Letkol Inf Dwi Chandra Setiawan, serta partisipasi aktif warga telah memastikan setiap program TMMD Ke-127 berjalan dengan baik dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat pedalaman Antang Kalang.
Tiga Puluh Hari Pengabdian yang Tak Sia-Sia

Di tengah semangat gotong royong yang tumbuh selama pelaksanaan TMMD, kerja keras Satgas TMMD Kodim 1015/Sampit bersama masyarakat akhirnya mencapai garis akhir. Selama 30 hari penuh, para prajurit dan warga bahu-membahu menyelesaikan berbagai program pembangunan di Desa Batu Agung, Tri Buana, dan Bukit Indah. Jalan yang sebelumnya rusak kini mulai tertata, drainase selesai dibangun, sungai dinormalisasi, jembatan diperkuat, hingga rumah warga yang tidak layak huni kini berdiri lebih kokoh.
Tidak hanya pembangunan fisik, berbagai program sosial juga berhasil dilaksanakan selama kegiatan TMMD berlangsung. Mulai dari pembangunan sumur bor, fasilitas MCK, bantuan gizi bagi anak-anak, pengobatan gratis, hingga penyuluhan kepada masyarakat. Seluruh kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat dalam menghadirkan perubahan bagi masyarakat pedalaman Kecamatan Antang Kalang.
Keberhasilan menyelesaikan seluruh program TMMD Ke-127 ini kemudian ditandai dengan upacara penutupan yang berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Kasdam XII/Tanjungpura Brigjen TNI Sugiyono. Dalam kesempatan tersebut, ia meninjau langsung berbagai hasil pembangunan yang telah dikerjakan oleh Satgas TMMD bersama masyarakat. “Apa yang telah dibangun selama TMMD ini harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, karena semua ini untuk meningkatkan kesejahteraan warga desa,” ujarnya.
Ketika Harapan Mulai Terlihat

Perlahan namun pasti, wajah Antang Kalang mulai berubah. Jalan-jalan yang dahulu menjadi kubangan lumpur kini tampak lebih padat dan kokoh dilalui kendaraan. Aliran sungai yang sebelumnya dangkal dan tersumbat sedimen kembali mengalir lebih lancar, sementara rumah-rumah warga yang dulu rapuh kini berdiri lebih kuat dan layak dihuni.
Bagi masyarakat Desa Batu Agung, Tri Buana, dan Bukit Indah, perubahan ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ia adalah tanda bahwa kehidupan perlahan bergerak menuju arah yang lebih baik. Deru alat berat, tawa warga yang bekerja bersama prajurit, hingga langkah-langkah Satgas TMMD yang menyusuri jalan desa telah menjadi simbol harapan baru bagi pedalaman Kotawaringin Timur.
Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk Bumi Tambun Bungai, jejak pengabdian para prajurit Kodim 1015/Sampit seolah tertanam di setiap jengkal tanah desa. TMMD ke-127 tidak hanya meninggalkan jalan yang lebih baik atau bangunan yang lebih kokoh, tetapi juga meninggalkan semangat kebersamaan yang menguatkan. Sebuah bukti bahwa ketika TNI dan rakyat berjalan dalam satu langkah, membangun negeri dari desa bukan lagi sekadar mimpi melainkan kenyataan yang kini mulai dirasakan.

