BALIKPAPAN – Tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) saat ini masih berada di angka 28 persen. Manajemen menargetkan angka tersebut turun hingga 20–21 persen sesuai target nasional.
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, menegaskan bahwa NRW bukan semata-mata air terbuang, melainkan selisih antara total produksi dengan air yang tercatat sebagai penjualan, termasuk kebocoran teknis dan faktor administrasi.
“NRW itu bukan berarti 28 persen air hilang percuma. Ada air di reservoir, di jaringan, termasuk kehilangan teknis,” jelasnya.
Untuk menekan angka tersebut, PTMB melakukan perbaikan jaringan secara masif serta penggantian 32.500 unit water meter lama agar pencatatan pemakaian lebih akurat.
“Nanti mungkin ada pelanggan merasa pemakaian naik. Itu bukan tarif naik, tapi pencatatannya lebih presisi,” ujarnya.
Yudhi juga menanggapi keluhan air keruh yang sempat terjadi. Ia memastikan kualitas air dari instalasi pengolahan memenuhi standar dengan tingkat kekeruhan (NTU) di bawah 1.
Menurutnya, air keruh biasanya muncul setelah peningkatan tekanan pompa atau perbaikan kebocoran besar, yang mendorong endapan dalam pipa hingga ke rumah pelanggan.
“Kalau ada laporan air keruh, tim kami turun maksimal 1×24 jam untuk pengurasan,” tegasnya.
Distribusi air di Balikpapan yang bergantung pada sistem pompa, berbeda dengan kota berbasis gravitasi, membuat manajemen tekanan lebih kompleks dan berisiko meningkatkan kebocoran.
Di 2026, PTMB juga menargetkan transformasi digital dengan integrasi data produksi dan distribusi secara real time. Sistem ini diharapkan mempercepat respons terhadap gangguan dan meningkatkan transparansi layanan kepada masyarakat.
“Kami ingin setiap gangguan langsung terbaca di sistem dan ditangani cepat. Targetnya, tidak ada keluhan yang lewat dari 1×24 jam,” pungkas Yudhi.

