BALIKPAPAN – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) mulai mengambil langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang berlangsung cukup panjang di Kalimantan Timur.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui operasi modifikasi cuaca untuk menambah volume air permukaan di wilayah IKN dan sekitarnya.
Kepala OIKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, mengatakan kondisi ketersediaan air di IKN saat ini masih tergolong baik.
Namun, penurunan muka air mulai terlihat di sejumlah lokasi sehingga perlu diantisipasi sejak dini.
“Di Bendungan Sepaku Semoi sudah terjadi penurunan muka air, kemudian juga di Sepaku. Kita bisa lihat sendiri di kolam-kolam masyarakat,” kata Danis.
Menurutnya, kondisi tersebut belum sampai menyebabkan kekurangan air bersih bagi masyarakat. Meski demikian, OIKN tidak ingin menunggu hingga kondisi semakin kritis.
“Jangan sampai kering terus kemudian nanti kita sampai kekurangan air. Itu saya kira,” ujarnya.
Selain persoalan air, musim kemarau juga meningkatkan potensi munculnya titik panas. Kondisi serupa telah terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan.
Karena itu, operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah antisipasi yang dilakukan untuk menjaga ketersediaan air sekaligus mengurangi risiko dampak kekeringan.
Sementara itu, Kepala BMKG Balikpapan Djoko Sumardiono mengatakan pelaksanaan modifikasi cuaca sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian.
Saat ini, pertumbuhan awan di Kalimantan Timur cenderung terbatas. Bahkan, awan yang muncul pada pagi hari dapat menghilang menjelang siang.
“Di Kalimantan Timur sudah hampir dua pekan tidak turun hujan. Pertumbuhan awan yang kita inginkan itu pertumbuhan awan-awan yang membawa uap air,” jelas Djoko.
Berdasarkan hasil pemantauan, pada salah satu hari pelaksanaan operasi, pertumbuhan awan yang berpotensi disemai berada di wilayah perbatasan utara Kalimantan Timur.
Namun, pergerakan awan ke arah utara membuat misi modifikasi cuaca belum tentu dapat dilakukan secara optimal.
Djoko menyebut, secara historis tingkat keberhasilan operasi modifikasi cuaca berada di kisaran 30 persen. Rendahnya peluang tersebut salah satunya dipengaruhi kondisi musim kemarau yang membuat keberadaan awan relatif sedikit.
Meski menghadapi keterbatasan cuaca, OIKN dan BMKG tetap menyiapkan operasi sebagai langkah antisipasi agar ketersediaan air di wilayah IKN tetap terjaga selama musim kemarau.

