El Niño Tekan Pasokan Sayuran, Inflasi Balikpapan Naik pada Oktober 2026

BALIKPAPAN – Kenaikan harga sayuran lokal hingga tarif angkutan udara membuat tekanan inflasi di Balikpapan meningkat pada Oktober 2026. Kondisi ini memperlihatkan bahwa gejolak harga kebutuhan masyarakat tidak hanya dipengaruhi permintaan, tetapi juga rentannya pasokan pangan terhadap perubahan cuaca dan biaya distribusi.

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, inflasi Kota Balikpapan pada Oktober 2026 mencapai 0,15 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan September yang tercatat 0,08 persen.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan bahkan mencapai 4,06 persen. Angka ini meningkat dari 3,93 persen pada bulan sebelumnya dan berada di atas inflasi gabungan empat kabupaten/kota penghitung Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Timur sebesar 4,04 persen, serta inflasi nasional 3,23 persen.

Tekanan harga paling terasa pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,06 persen. Lima komoditas yang menjadi penyumbang utama adalah sawi hijau, jagung manis, kacang panjang, tomat, dan angkutan udara.

Kenaikan harga sawi hijau dan kacang panjang berkaitan dengan berkurangnya pasokan dari petani lokal Balikpapan dan wilayah sekitarnya. Kondisi cuaca yang dipengaruhi El Niño turut memengaruhi tingkat produksi.

Sementara jagung manis dan tomat mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi, terutama Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Penurunan pasokan tersebut terjadi ketika permintaan masih kuat.

Tekanan juga datang dari sektor transportasi. Tarif angkutan udara meningkat setelah pemberlakuan kembali fuel surcharge maksimal 40 persen dari tarif batas atas mulai 1 Oktober 2026. Kebijakan tersebut sejalan dengan rata-rata harga avtur yang mencapai Rp23.315 per liter.

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, beberapa bahan pangan justru mengalami penurunan harga. Ikan layang dan ikan tongkol menjadi penyumbang deflasi karena hasil tangkapan nelayan di perairan Balikpapan dan sekitarnya meningkat seiring kondisi gelombang laut yang kembali normal.

Harga semangka dan bayam juga turun karena pasokan meningkat, sedangkan emas perhiasan mengalami penurunan harga sejalan dengan pelemahan harga emas global.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga di Balikpapan masih sangat dipengaruhi kelancaran pasokan. Ketika produksi hortikultura terganggu cuaca, komoditas yang didatangkan dari luar daerah ikut rentan mengalami kenaikan harga.

Bank Indonesia Balikpapan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat stabilisasi harga melalui Gerakan Pangan Murah, pasar murah, dan operasi pasar. Sepanjang Oktober, kegiatan tersebut dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan pemerintah daerah dan Bulog.

Upaya penguatan pasokan juga dilakukan melalui penyebaran bibit hortikultura serta penjajakan kerja sama antardaerah dengan sejumlah wilayah sentra produksi di Sulawesi Selatan.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi dalam keterangan tertanggal 2 November 2026 menyampaikan bahwa pengendalian inflasi perlu diperkuat melalui sinergi lintas daerah dan kesinambungan pasokan pangan.

Tantangan berikutnya adalah menjaga agar kenaikan harga tidak semakin membebani daya beli masyarakat. Terlebih, risiko El Niño diperkirakan masih berlanjut hingga awal 2027 dan berpotensi mengganggu produksi, memperlambat masa tanam, hingga meningkatkan risiko gagal panen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *