Nusantara – Inovasi teknologi drone kembali menjadi salah satu daya tarik dalam ajang Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. Salah satunya ditampilkan tim dari Universitas Telkom Surabaya melalui drone bernama <span;>Falcon<span;>.
<span;>Mamatar Arifin, mahasiswa Universitas Telkom Surabaya yang tergabung dalam Divisi VTOL KRTI 2026, mengatakan Falcon dirancang dengan sejumlah teknologi untuk meningkatkan kemampuan navigasi dan presisi saat menjalankan misi di arena perlombaan.
<span;>“Di belakang saya ini ada drone kita, namanya Falcon,” ujar Arifin.
<span;>Menurutnya, Falcon dilengkapi teknologi <span;>RealSense<span;> yang digunakan untuk mendukung sistem deteksi serta computer vision. Teknologi tersebut membantu drone mengenali kondisi dan objek yang akan dilalui saat menjalankan misi.
<span;>Selain itu, Falcon juga menggunakan RTK (Real-Time Kinematic) untuk meningkatkan presisi koordinat GPS.
<span;>“RTK ini untuk presisi koordinat GPS yang akan memandu si drone jalan ke mana saja,” jelasnya.
<span;>Salah satu keunggulan yang diusung tim adalah tingkat presisi GPS. Dengan sistem tersebut, pergerakan drone diharapkan dapat lebih tepat sesuai jalur yang telah ditentukan.
<span;>Tim juga mengembangkan sistem kecerdasan buatan untuk mendukung computer vision. Menurut Arifin, penggunaan AI membantu mempercepat proses komputasi dalam sistem machine learning yang digunakan pada drone.
<span;>“Kalau kelebihannya kita lebih ke presisi GPS-nya. Jadi jalannya itu lebih tepat. Di computer vision kita menggunakan AI, sehingga komputasi untuk machine learning-nya lebih cepat,” katanya.
<span;>Dari sisi material, Falcon menggunakan kombinasi sejumlah bahan. Frame utama drone dibuat dari serat karbon, sementara beberapa bagian lainnya menggunakan material plastik yang dibuat dengan teknologi 3D printing, termasuk bagian penutup atau kubah atas.
<span;>Arifin menyebut sebagian komponen drone masih menggunakan produk impor. Namun, mayoritas material yang digunakan tim berasal dari dalam negeri.
<span;>“Beberapa ada impor, tapi rata-rata lokal,” ujarnya.
<span;>Pengembangan Falcon dilakukan dalam waktu relatif singkat. Tim membutuhkan waktu sekitar satu hingga empat minggu, tergantung proses pengembangan dan penyempurnaan drone.
<span;>Untuk biaya, Arifin menyebut dana yang dikeluarkan mencapai puluhan juta rupiah. Pembiayaan tersebut berasal dari dukungan kampus.
<span;>“Dananya kita habis sekitar puluhan juta, dari dana kampus,” katanya.
<span;>Falcon juga merupakan pengembangan dari rancangan yang telah digunakan tim pada tahun sebelumnya. Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal bagi mahasiswa untuk melakukan penyempurnaan pada sistem dan performa drone.
<span;>Dalam kompetisi KRTI 2026, tim Universitas Telkom Surabaya berhasil melaju dari babak 16 besar menuju delapan besar. Arifin mengatakan tim mendapat dorongan untuk tetap optimistis menghadapi tahapan berikutnya.
<span;>“Pesan khusus dari juri kayak nggak ada, cuma kita harus berusaha optimis terus. Pasti ada jalan untuk menuju kemenangan,” tuturnya.
<span;>Menghadapi tim-tim lain, Arifin mengakui setiap peserta memiliki karakteristik dan keunggulan teknologi masing-masing. Namun, ia menyebut timnya memilih fokus pada performa Falcon dan menjalankan strategi yang telah dipersiapkan.
<span;>“Kalau perbedaan pastinya ada, cuma kita kurang tahu saja,” pungkasnya.
<span;>

