BALIKPAPAN – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap operasional penerbangan di Kalimantan semakin meluas. Sepanjang periode 14 hingga 20 September 2026, tercatat sebanyak 409 penerbangan terdampak di wilayah kerja Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 141 penerbangan mengalami keterlambatan (delayed), 254 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), serta 14 penerbangan dialihkan (diverted).
Jumlah tersebut melonjak dibandingkan periode 7 hingga 13 September 2026 yang mencatat 159 penerbangan terdampak. Artinya, terjadi peningkatan sebanyak 250 penerbangan atau sekitar 157,2 persen hanya dalam sepekan.
Secara kategori, penerbangan yang mengalami keterlambatan meningkat dari 49 menjadi 141 penerbangan atau naik 187,8 persen. Penerbangan yang dibatalkan atau ditunda naik dari 106 menjadi 254 penerbangan atau 139,6 persen. Sementara penerbangan yang dialihkan meningkat dari empat menjadi 14 penerbangan atau 250 persen.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah penerbangan terdampak tertinggi. Totalnya mencapai 201 penerbangan atau sekitar 49 persen dari keseluruhan penerbangan terdampak.
Dari jumlah tersebut, 79 penerbangan mengalami keterlambatan, 121 dibatalkan atau ditunda, dan satu penerbangan dialihkan. Angka itu meningkat dari 107 penerbangan terdampak pada periode sebelumnya atau naik sekitar 87,9 persen.
Bandara Tjilik Riwut mencatat 37 penerbangan delayed, 55 cancelled/postponed dan satu diverted, dengan jarak pandang (visibility) berkisar 50 hingga 6.000 meter.
Kemudian Bandara Iskandar mencatat 30 delayed dan empat cancelled/postponed, dengan visibility 50–9.000 meter. Bandara H. Asan mencatat 10 delayed dan enam cancelled/postponed, dengan jarak pandang 100–6.000 meter.
Sementara Bandara Haji Muhammad Sidik mencatat 36 penerbangan cancelled/postponed dengan visibility hanya 50–2.000 meter. Di Kuala Kurun terdapat dua penerbangan cancelled/postponed dengan jarak pandang terendah 200 meter.
Kaltim 138 Penerbangan Terdampak
Di Kalimantan Timur, sebanyak 138 penerbangan terdampak selama periode yang sama. Jumlah tersebut terdiri dari 48 delayed, 77 cancelled/postponed, dan 13 diverted.
Dibandingkan periode 7–13 September yang hanya mencatat 22 penerbangan terdampak, terjadi peningkatan sebanyak 116 penerbangan atau sekitar 527,3 persen.
Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan mencatat 17 delayed, 18 cancelled/postponed, dan tujuh diverted. Sementara Bandara A.P.T. Pranoto Samarinda mencatat 24 delayed, tujuh cancelled/postponed, serta dua diverted.
Bandara Kalimarau Berau mencatat tujuh delayed, 25 cancelled/postponed, dan dua diverted. Adapun Bandara Datah Dawai mencatat 15 penerbangan cancelled/postponed.
Bandara Melalan mencatat 12 cancelled/postponed dan dua diverted. Sementara Bandara Nusantara dan Maratua tidak mencatat penerbangan terdampak selama periode tersebut.
Kaltara 70 Penerbangan Terdampak
Di Kalimantan Utara, Otban Wilayah VII mencatat 70 penerbangan terdampak, terdiri dari 14 delayed dan 56 cancelled/postponed.
Angka tersebut meningkat 40 penerbangan dibandingkan periode sebelumnya yang mencatat 30 penerbangan terdampak, atau naik sekitar 133,3 persen.
Bandara Juwata mencatat 11 delayed dan 20 cancelled/postponed. Bandara Tanjung Harapan mencatat dua delayed dan enam cancelled/postponed.
Kemudian Bandara Long Bawan mencatat dua cancelled/postponed, R.A. Bessing sebanyak 10 cancelled/postponed, serta Long Apung satu delayed dan 18 cancelled/postponed. Sementara Bandara Nunukan tidak mencatat penerbangan terdampak.
Visibility Turun hingga 50 Meter
Selain meningkatnya jumlah penerbangan terdampak, kondisi jarak pandang di sejumlah bandara juga mengalami penurunan akibat kondisi karhutla.
Pada periode 14–20 September 2026, visibility terendah tercatat hanya 50 meter. Kondisi tersebut terjadi di Bandara Tjilik Riwut, Iskandar, Haji Muhammad Sidik, dan A.P.T. Pranoto.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, ketika jarak pandang terendah tercatat 200 meter di Bandara Haji Muhammad Sidik.
Kondisi jarak pandang yang rendah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran operasional penerbangan, khususnya dalam aspek keselamatan penerbangan.
Untuk penumpang yang terdampak keterlambatan maupun pembatalan penerbangan, pemenuhan hak berupa kompensasi, penjadwalan ulang (reschedule), maupun pengembalian biaya tiket secara penuh (full refund) dilaksanakan oleh masing-masing maskapai sesuai ketentuan yang berlaku.
Kantor Otban Wilayah VII Balikpapan menyatakan akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan serta meningkatkan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan aspek keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran operasional penerbangan tetap terjaga selama kondisi karhutla masih berlangsung.

