Di pagi hari, ketika kabut tipis masih menggantung di atas hamparan persawahan, warga Desa Pantai Ulin, Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mulai bergerak menuju ladang dan kebun mereka. Sebagian memikul hasil panen, sebagian lagi mengayuh sepeda motor melewati jalan setapak berlumpur yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi kehidupan desa.
Bagi masyarakat Pantai Ulin, jalan bukan sekadar akses penghubung. Jalan adalah harapan. Jalan adalah penentu apakah hasil panen bisa sampai ke pasar tepat waktu, apakah anak-anak dapat bersekolah tanpa harus pulang mengganti pakaian karena terjatuh di kubangan lumpur, dan apakah roda ekonomi desa dapat terus berputar.
Desa yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Hulu Sungai Selatan itu dihuni sekitar 2.129 jiwa dengan mayoritas masyarakat menggantungkan hidup sebagai petani, pekebun, dan pedagang. Namun di balik potensi pertanian yang besar, tersimpan persoalan klasik yang bertahun-tahun belum terselesaikan: infrastruktur.

Saat Pembangunan menyentuh Desa, Gotong royong terus dilakukan.
Ketika Jalan Berlumpur Menjadi Tantangan Sehari-hari
Saat musim hujan datang, jalan tanah di Desa Pantai Ulin berubah menjadi kubangan panjang yang licin dan sulit dilalui. Anak-anak sekolah sering kali harus berjalan hati-hati sambil mengangkat sepatu mereka agar tidak tenggelam dalam lumpur. Tak sedikit yang akhirnya jatuh dan pulang dengan seragam penuh tanah basah.
Bagi para petani, kondisi itu lebih berat lagi. Mereka harus mempertaruhkan keselamatan ketika membawa hasil panen melintasi jalan sempit yang becek dan tergenang air. Motor pengangkut padi kerap tergelincir, bahkan terbalik karena tidak mampu menaklukkan medan.
Kondisi geografis Pantai Ulin yang merupakan dataran rendah menjadi tantangan tersendiri. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, banjir dan genangan air hampir selalu datang. Padahal desa ini merupakan salah satu wilayah penyangga produksi padi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan sekitarnya.
Ironisnya, desa yang menjadi lumbung pangan justru harus berjuang dengan akses jalan yang belum memadai.

TMMD Hadir Membuka Akses dan Harapan
Melihat kondisi tersebut, Kodim 1003/Hulu Sungai Selatan melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128 menjadikan Desa Pantai Ulin sebagai sasaran pembangunan.
Dipimpin langsung Dansatgas TMMD, Letkol Inf Ading Priyotantoko, program ini bukan sekadar menghadirkan pembangunan fisik, tetapi juga membawa semangat gotong royong dan kepedulian terhadap masyarakat pedesaan.
Di tengah hamparan sawah dan aktivitas pertanian warga, personel TNI bersama masyarakat bahu-membahu mengerjakan pembangunan jalan cor sepanjang 1.000 meter yang menghubungkan Desa Pantai Ulin dengan Desa Ulin. Jalan tersebut menjadi sasaran fisik utama TMMD karena dinilai sangat vital bagi mobilitas masyarakat.
Kini, harapan mulai tumbuh di sepanjang jalan yang sebelumnya hanya berupa tanah berlumpur. Para petani membayangkan hasil panen mereka dapat diangkut lebih cepat dan aman. Anak-anak sekolah pun tak lagi harus bertarung dengan lumpur setiap pagi.

Dari Infrastruktur Hingga Ketahanan Pangan
TMMD Ke-128 tidak hanya fokus pada pembangunan jalan. Berbagai sasaran fisik tambahan juga dilaksanakan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.
Sebanyak lima unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) direhabilitasi, lima unit MCK dibangun untuk mendukung sanitasi warga, satu unit pos kamling didirikan guna memperkuat keamanan lingkungan, serta rehabilitasi tempat ibadah sebagai pusat kegiatan sosial dan spiritual masyarakat.
Tak hanya itu, program TNI Manunggal Air Bersih (TMAB) juga diwujudkan melalui pembangunan lima titik sumber air bersih bagi warga.
Menariknya, TMMD di Pantai Ulin turut menyentuh sektor pertanian secara langsung. Sebagai desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, Satgas TMMD mempelopori pembukaan lahan pertanian seluas satu hektare sebagai percontohan.
Lahan tersebut diharapkan mampu mendukung pola tanam lebih dari satu kali dalam setahun sehingga produktivitas pertanian meningkat. Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan daerah yang mandiri hingga mendukung program ketahanan pangan nasional.

Kemanunggalan TNI dan Rakyat di Tengah Sawah
Pemandangan prajurit TNI bekerja bersama warga di tengah area persawahan menjadi bukti nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Tidak ada sekat antara seragam loreng dan masyarakat. Semua larut dalam satu tujuan: membangun desa demi masa depan yang lebih baik.
Sinergi antara Kodim 1003/Hulu Sungai Selatan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan TMMD. Program ini bukan hanya membangun jalan dan fasilitas umum, tetapi juga membangun optimisme warga desa bahwa perhatian negara benar-benar hadir hingga pelosok.
Di Pantai Ulin, TMMD bukan sekadar program pembangunan tahunan. Ia adalah jalan harapan yang dibangun di tengah sawah, demi kehidupan petani yang lebih layak dan masa depan generasi desa yang lebih cerah.

