Di pedalaman Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, terdapat dua desa yang lama terisolasi dari denyut pembangunan. Desa Ujung Blang hingga Desa Pante Ara selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan infrastruktur yang membuat kehidupan masyarakat berjalan lambat. Jalan yang sulit dilalui, akses ekonomi terbatas, hingga persoalan air bersih menjadi bagian dari keseharian warga.
Namun, keadaan itu perlahan berubah ketika program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 0116/Nagan Raya hadir di wilayah tersebut.
Program terpadu lintas sektor ini bukan sekadar kegiatan pembangunan fisik, tetapi juga menjadi langkah percepatan pemerataan pembangunan di daerah yang selama ini tertinggal.

Jalan Sulit, Ekonomi Tersendat
Mayoritas masyarakat Ujung Blang dan Pante Ara menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. Setiap hari mereka harus menuju kebun yang letaknya cukup jauh dari permukiman.
Masalahnya, akses jalan menuju kebun sangat memprihatinkan.
Pada musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur yang sulit dilalui kendaraan. Bahkan tidak jarang warga harus berjalan kaki untuk mencapai lahan pertanian mereka. Sementara pada musim kemarau, jalan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dengan sangat terbatas.
Kondisi tersebut membuat roda perekonomian masyarakat tidak berjalan maksimal.
Hasil pertanian yang seharusnya bisa dijual ke pasar sering terkendala transportasi. Biaya angkut tinggi dan waktu tempuh lama membuat pendapatan petani tidak berkembang.
Melihat kondisi tersebut, pembangunan dan pengerasan jalan menjadi salah satu sasaran utama dalam pelaksanaan TMMD ke-126.
Dengan adanya akses jalan yang lebih baik, diharapkan kendaraan roda dua maupun roda empat dapat melintas dengan mudah. Dampaknya, masyarakat bisa membawa hasil pertanian dan perkebunan menuju pasar atau kota terdekat dengan lebih cepat dan efisien.

Dari Sungai ke Air Bersih
Selain persoalan jalan, masalah lain yang dihadapi masyarakat adalah keterbatasan akses air bersih.
Selama ini sebagian warga masih memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi, mencuci, dan kebutuhan sanitasi lainnya. Kondisi tersebut tentu berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.
Melihat kebutuhan mendasar tersebut, Satgas TMMD ke-126 membangun bak penampungan air bersih di lima titik di Desa Ujung Blang.
Pembangunan fasilitas air bersih ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendorong pola hidup sehat.

Menghapus Trauma Masa Lalu
Ujung Blang bukanlah desa biasa dalam catatan sejarah Aceh. Wilayah ini pernah menjadi salah satu basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada masa konflik Aceh, khususnya pada periode darurat militer tahun 1999 hingga 2005.
Bayang-bayang konflik itu masih tersisa dalam ingatan sebagian masyarakat.
Pada awal kedatangan Satgas TMMD, tidak sedikit warga yang masih menyimpan rasa takut terhadap kehadiran prajurit TNI. Trauma masa lalu membuat sebagian masyarakat memilih menghindar ketika berpapasan dengan anggota TNI.
Namun pendekatan yang dilakukan Satgas TMMD perlahan mengubah suasana.
Dengan pendekatan persuasif dan kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, jarak yang sebelumnya terasa kaku mulai mencair. Prajurit TNI tidak hanya bekerja membangun infrastruktur, tetapi juga berbaur dengan warga dalam berbagai aktivitas.
Hubungan yang awalnya penuh jarak berubah menjadi keakraban.
Bahkan di bulan Ramadhan, personel Satgas TMMD kerap berbuka puasa bersama masyarakat. Kebersamaan itu menjadi simbol lahirnya kembali rasa saling percaya antara TNI dan warga.
Kini, masyarakat tidak lagi merasa canggung. Mereka justru menganggap anggota Satgas TMMD sebagai bagian dari keluarga sendiri.

Rumah Layak untuk Harapan Baru
Selain pembangunan infrastruktur dan fasilitas air bersih, program TMMD juga menyasar perbaikan rumah tidak layak huni.
Salah satu penerima bantuan adalah Bu Tek Nong, seorang janda yang hidup seorang diri setelah ditinggal suaminya. Rumah yang ditempatinya sebelumnya berada dalam kondisi memprihatinkan.
Melalui program pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), rumah Bu Tek Nong direnovasi sehingga menjadi lebih layak untuk ditinggali.
Bagi warga seperti Bu Tek Nong, bantuan tersebut bukan sekadar perbaikan rumah, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan harapan baru dalam menjalani kehidupan.

Kemanunggalan yang Terbangun
Komandan Kodim 0116/Nagan Raya selaku Dansatgas TMMD mengaku terkesan dengan perubahan suasana di Desa Ujung Blang.
Jika pada awal kegiatan masyarakat masih terlihat menjaga jarak, kini mereka justru sangat terbuka dan aktif berbaur dengan prajurit yang bekerja di desa mereka.
Perubahan itu menjadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan kebersamaan.
Melalui TMMD ke-126, percepatan pembangunan di wilayah pedalaman Beutong mulai terlihat nyata. Jalan mulai terbuka, akses air bersih tersedia, rumah warga diperbaiki, dan yang tidak kalah penting adalah terbangunnya kembali hubungan erat antara TNI dan masyarakat.
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, instansi terkait, hingga partisipasi aktif masyarakat.
Di Ujung Blang dan Pante Ara, TMMD tidak hanya membangun desa. Ia juga membangun harapan bahwa pembangunan bisa hadir hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini berada di pinggir peta pembangunan.

