Tim PKM Pascasarjana UPR Latih Pembuatan Batik Alam Berbahan Tumbuhan

Proses pembuatan batik alam di kaos oleh Tim Pelaksana Pengabdian Kepada Masyarakat oleh Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya bersama kelompok Pengrajin UKM Bawi Dayak. (Media Dayak/PKM Paskasarjana UPR)

Palangka Raya, Media Dayak

Benang bintik atau batik di Kota Palangka Raya cukup potensial untuk dikembangkan. Namun industri batik ini masih belum berkembang dengan baik, kendala yang dihadapi antara lain adalah sulitnya bahan serta kurangnya keterampilan para perajin batik ini dalam membuat kreatifitas motif dan warna untuk batik tersebut.

Kondisi demikian menarik antusiasme tim pelaksana Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya (UPR) untuk melakukan kegiatan pendampingan terhadap para pengrajin di daerah ini pada Oktober hingga Nopember 2019 tadi.

Pihak Program Pascasarjana UPR memberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan motif dan Teknik pembuatan batik dengan motif dan warna alam dengan memanfaatkan bahan tumbuhan di sekitar rumah pada bahan kaos.

Foto : Hasil kaos yang telah jadi diperlihatkan Dr. Misrita, S.S., M.Hum beserta tim. (Media Dayak/PKM Paskasarjana UPR)

Ketua Tim Pelaksana Pengabdian Kepada Masyarakat  Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya Dr. Misrita, S.S., M.Hum, didampingi  anggota Ir. Rosdiana, M.P.  serta Dibantu  2 orang Mahasiswa Program Pascasarjana UPR,  akhir pekan lalu mengatakan, kelompok masyarakat yang dijadikan mitra dalam hal ini adalah kelompok Perajin UKM Bawi Dayak, yang selama ini membuat pakaian jadi bahan batik dari kain batik cetak yang sudah jadi. 

Dijelaskan Dr. Misrita, S.S., M.Hum, permasalahan prioritas yang akan ditangani adalah memodifikasi dan menambah variasi produk, seperti membuat kaos batik dengan motif dan warna  daun tanaman yang tumbuh di sekitar rumah khas Kalimantan Tengah (Kalteng).  

Lebih lanjut dkatakan Dr. Misrita, S.S., M.Hum, solusi yang disepakati bersama Mitra adalah memberi pelatihan dan pendampingan pada Mitra.  Point lebih yang ditawarkan dalam pembuatan batik pada baju kaos ini adalah pewarna dari bahan alami yang dihasilkan adalah warna-warna yang unik dan sangat berbeda dari pewarna sintetis.

 “Keutamaannya adalah menghasilkan produk yang ramah lingkungan, sehingga mendukung program pemerintah baik lokal, regional, nasional bahkan internasional tentang produk ramah lingkungan,” ujar Dr. Misrita, S.S., M.Hum, Hum. 

Dia melanjutkan, tanaman-tanaman yang dapat digunakan dalam pembuatan batik alam ini adalah tumbuhan yang mudah di dapatkan karena tumbuh di lahan gambut  sekitar rumah seperti daun karamunting, daun jambu biji, daun kersen, daun bayam, daun krinyu, daun galam, dan lain-lain.

“Dengan cara disusun di atas bahan kaos yang telah siap untuk buat Batik, setelah daun-daun ditempelkan selanjutnya dipounding (dipukul-pukul) hingga motif dan warna daun berpindah dengan sempurna ke bahan kaos tersebut,” demikian Dr. Misrita, S.S., M.Hum. (Lsn)

image_print
Menampilkan lebih banyak
Close