Mucikari Wajar Ditangkap, Karena PSK Korban

Kabid Rehabilitasi Sosial Pemberdayaan Kelembagaan dan Komunitas Adat Terpencil, Walter

Muara Teweh, Media Dayak

Lokalisasi Prostitusi Lembah Durian “Merong” yang berada di kilometer 3,5 ruas jalan Muara Teweh-Puruk Cahu, Kabupaten Barito Utara (Barut) pada bulan Desember 2019 lalu telah ditutup oleh Pemkab setempat. Bahkan penutupan tersebut ditandai dengan penandatanganan Deklarasi Pemkab Barito Utara Bebas Lokalisasi Prostitusi, di halaman kantor bupati setempat.

Plt Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos PMD) Kabupaten Barito Utara (Barut) Eveready Noor melalui Kabid Rehabilitasi Sosial Pemberdayaan Kelembagaan dan Komunitas Adat Terpencil, Walter menegaskan bahwa prostitusi lokalisasi “Merong” yang masih beroperasi sekarang ini perlu diberantas, mengingat lokalisasi protitusi tersebut sudah ditutup pada tahun 2019 lalu.

“Ini bukan pembiaran dan kami akan segera menanggulangi penyakit masyarakat (Pekat) tersebut,” kata Walter, Jumat (07/02/2020).

Walter tidak serta merta menyalahkan para Pekerja Seks Komersial (PSK) karena menurutnya mereka hanya sebagai korban yang diperjual belikan oleh germo atau mucikari.

“Saat didata pasca pemulangan ada 120 orang. Tapi pada hari H, hanya 5 orang dipulangkan dengan berbagai macam alasan. PSK hanya menjadi korban, karena diduga mereka terlilit hutang sehingga tidak berani pulang karena dilarang mucikarinya,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, mucikari ini wajar ditangkap karena mereka sudah melanggar aturan perundang-undangan yang tidak boleh memperjual belikan manusia. “Germo harus ditindak, karena dialah yang menjual,” katanya.

Tindak lanjut mengenai masalah “Merong” ini, Dinsos PMD Barito Utara akan segera merapatkannya kembali dengan melibatkan beberapa intansi lainnya, termasuk Satpol PP dan pihak Kepolisian. “Kami akan segera atur jadwal terkait masalah ini, dan apa tindakan dari pemerintah. Kita tunggu saja hasilnya,” tegasnya.(lna/aw)

image_print
Menampilkan lebih banyak
Close