Menumbuhkan Optimisme Bangsa Melalui Pemberitaan Media Untuk Mewujudkan Indonesia Maju

Oleh : Nur Chofifah )*

Tahun 2020 telah kita lalui, tentunya dengan berbagai memori pada tahun 2019 dimana tahun tersebut merupakan tahun yang menjadi ujian bagi Negara Indonesia, dimana salah satunya adalah penyelenggaraan pemilu yang sempat melahirkan polarisasi politik akibat perbedaan pilihan.

Hampir setiap hari kita disuguhkan oleh berbagai ujaran kebencian hingga berita palsu yang bertebaran terutama di sosial media. Kaum garis keras juga seakan menjadikan agama untuk menjadikan dalih bahwa pilihannyalah yang paling benar.

            Selain itu masalah radikalisme juga masih menunjukkan eksistensinya, bahkan terkesan lebih bar bar dari tahun sebelumnya.

            Pada tahun 2019 itulah muncul berbagai media yang terkesan menjadi provokator, tidak sedikit pemilik akun sosial media yang mendadak menjadi jurnalis untuk menebarkan kebencian pada kelompok yang tidak sepaham.

            Banyak akun sosial media yang dengan gencar menebarkan pesimisme bangsa Indonesia, terutama jelang pelantikan presiden dan wakil presiden yang penuh dengan drama politik.

            Sebelumnya, mantan wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) pernah menyatakan, keberadaan media massa merupakan representasi dari kemajuan bangsa Indonesia.

            Tentu saja masyarakat yang baik cenderung untuk mendapatkan informasi yang baik. Sedangkan masyarakat yang maju memerlukan informasi yang baik tentang suatu produk melalui iklan.

            Kita semua sudah paham bahwa saat ini media berkembang dalam era perkembangan teknologi. Akibat kemajuan tersebut terjadilah perubahan cara dalam mengakses informasi di lingkungan masyarakat.

            Media juga dapat menjadi penggerak aktifitas sosial masyarakat, dengan kata lain media juga mendorong percepatan globalisasi. Hal tersebut dikarenakan media memiliki kekuatan persuasif tersendiri yang dapat membujuk atau memobilisasi masyarakat untuk melakukan sesuatu.

            Selain menjadi penggerak, media juga merupakan sarana pemberdayaan bagi masyarakat dalam mengabarkan suatu berita, media massa memang dituntut untuk bersikap netral atau tidak berpihak. Namun bukan berarti menutupi sesuatu yang seharusnya diungkapkan.

            Dalam hal ini media juga menjadi ruang bagi siapapun ntuk melihat dan belajar dari apa yang terjadi diluar sana. Dengan begitu keberadaan media juga turut berperan agar masyarakat dapat mengetahui kejadian atau informasi lintas ruang dan waktu.

            Sehingga konten yang disajikan oleh media bisa diibaratkan seperti penjual makanan, dimana makanan yang sehat tentu akan menyehatkan konsumen yang mengonsumsinya. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya.

            Keberadaan media juga bisa menjadi wadah dari berbagai ide, pesan, serta informasi kepada publik yang memungkinkan timbulnya umpan balik (feedback) atau tanggapan dari publik yang menerima informasi.

            Sudah sepantasnya media memberikan wadah tersendiri bagi masyarakat yang memiliki ide-ide untuk kemajuan bangsa. Karena Indonesia masih membutuhkan orang yang memiliki karya bukan orang yang gemar menghasut atau memprovokasi.

            Di era digital ini memang dimungkinkan seseorang akan memiliki konten medianya sendiri, hanya berbekal akun sosial media, semua warganet bisa menjadi jurnalis tanpa harus mempelajari kode etik dan kaidah jurnalis.

            Tetapi semakin mudahnya masyarakat mengakses media, ancaman akan adanya hoax ataupun konten provokatif amatlah sulit dihindari. Sehingga media mainstrem memiliki peran penting dalam menyajikan berita pembandingnya.

            Secara logika, jika konten yang tidak sehat dikonsumsi secara mentah-mentah, tentu hal tersebut akan menjadi sesuatu yang tidak baik bagi sesiapapun yang mengonsumsinya. Jika hal itu terjadi, darimana bangsa ini akan maju?

            Oleh karena itu, media juga memiliki peran vital dalam menyajikan berbagai ide positif bagi kemajuan bangsa, ide-ide inilah yang nantinya akan memunculkan sikap optimisme bagi kemajuan bangsa.

            Jangan sampai ujaran pesimisme menjadi sesuatu yang vokal dalam setiap moment pemberitaan di berbagai media. Indonesia sendiri memiliki lebih dari 250 juta jiwa dimana angkatan muda mendominasi atas jumlah tersebut.

            Tentu saja peran media tak akan lepas dari campur tangan generasi muda yang kreatif dan inovatif dalam menelurkan ide bagi kemajuan bangsa.

            Jangan sampai media ikut-ikutan latah dalam menebarkan provokasi karena dianggap menaikkan jumlah kunjungan, tetapi media saat ini haruslah berperan dalam memberikan konten yang positif, menghibur dan senantiasa menambah wawasan bagi pengakses informasi.

)*  Penulis adalah pegiat media sosial

image_print
Menampilkan lebih banyak
Close