Ketua TP-PKK Kalteng Sebut Perlu Tekan Stunting Tingkat Pedesaan

Ketua TP-PKK Kalteng Yulistra Ivo Azhari Sugianto Sabran saat menyampaikan sambutan pada rapat kerja kecepatan penyaluran dan penggunaan dana desa se-Kalteng tahun 2020, di Aula Jayang Tingang kantor Gubernur Kalteng, Kamis (20/02/2020). (Media Dayak/Humas Pemprov)

Palangka Raya, Media Dayak

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Yulistra Ivo Azhari Sugianto Sabran menegaskan agar menghidupkan Posyandu di pedesaan.

Wanita asal Jawa Tengah yang akrab disapa Ivo ini menilai bahwa permasalahan stunting perlu ditekan tidak hanya dari tingkatan atas (kota, red) melainkan melalui tingkatan paling bawah yakni keluarga di pedesaan.

Ivo menjelaskan, stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makanan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. 

“Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Selain pertumbuhan terhambat stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, akhirnya menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang serta prestasi sekolah yang buruk terhadap anak,” jelas Ivo saat menyampaikan sambutan pada acara rapat kerja kecepatan penyaluran dan penggunaan dana desa se-Kalteng tahun 2020, di Aula Jayang Tingang kantor Gubernur Kalteng, Kamis (20/2).

Ivo mengatakan, saat ini tingginya angka stunting di Kalteng sangat memprihatinkan, dan ini dapat mengakibatkan menurunnya kecerdasan sehingga produktivitas kerja tidak optimal. 

Pada prioritas penggunaan dana desa, selain stunting juga terdapat permasalahan lain yakni rendahnya jumlah Posyandu aktif.

“Saya ingin para kepala desa se-Kalteng dapat bersama-sama mengaktifkan kembali Posyandu melalui Pokjanal Posyandu di setiap jenjang,” beber istri orang nomor satu di Pemerintahan Kalteng Berkah ini.

Berdasarkan data yang ada, lanjut Ivo, total Posyandu yang ada di Kalteng yakni 2.573 Posyandu. Dari jumlah tersebut, Posyandu yang aktif hanya 46,02 persen atau 1.184 Posyandu. Tentu saja, jumlah ini masih jauh dari target nasional yaitu 60 persen.

“Mari kita aktifkan kembali posyandu yang merupakan kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat. Harapannya Posyandu ini dapat mencegah secara dini terjadinya stunting di masyarakat,” pungkasnya.(Yanting/aw) 

image_print
Menampilkan lebih banyak
Close