Kadisnakertrans Ungkap Penyebab Pengangguran Di Kalteng

Rivianus Syahril Tarigan

Palangka Raya, Media Dayak

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) provinsi Kalimantan Tengah, Rivianus Syahril Tarigan mengungkapkan tiga penyebab tingkat pengangguran di daerah setempat sulit untuk dikurangi.

“Penyebab pertama adalah kemampuan dunia usaha dan dunia industri menyerap tenaga kerja masih sangat terbatas atau masih belum sebanding dengan jumlah pengangguran yang ada,” katanya, Jumat (20/03/2020).

Penyebab kedua adalah para pencari kerja, baik lulusan sekolah lanjutan termasuk sekolah menengah kejuruan maupun perguruan tinggi, berada pada kondisi ingin bekerja tapi belum siap kerja, apalagi siap pakai oleh dunia usaha dan dunia industri.

Penyebab ketiga, kata R Sylvanus Syahrin, merupakan penyebab yang utama dan paling susah ditangani, yaitu masih rendahnya etos kerja para pencari kerja maupun tenaga kerja di provinsi Kalimantan Tengah.

“Mungkin karena terlalu dimanja dengan sumber daya alam yang melimpah, sehingga etos kerja tenaga kerja di Kalteng cukup rendah. Salah satu contohnya adalah tenaga kerja lebih banyak istirahat daripada bekerja kalau tidak diawasi,” katanya.

Kepada Disnakertrans Kalteng ini menuturkan, pencari kerja di Kalteng lebih memilih menjadi Satpam daripada pemanen sawit di perusahaan perkebunan. Padahal, gaji pemanen sawit lebih besar daripada gaji Satpam.

“Orang kita tidak ada yang mau menjadi pemanen dan lebih memilih menjadi satpam, karena mendapat seragam sehingga selalu terlihat rapi dan tidak capek, walau mendapat gaji rendah,” tukasnya.

R Sylvanus Syahrin juga menyebut, tingkat kesadaran tentang keamanan di lokasi kerja yang dimiliki tenaga kerja Kalteng masih rendah. Contohnya adalah pekerja yang tetap merokok walau pekerjaan dan kondisi tempat kerja berdekatan dengan bahanbakar minyak (BBM).

“Selama ini ada pertanyaan tentang kenapa tidak ada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Kalimantan Tengah yang bekerja di luar negeri? Mungkin ini terkait  dengan rendahnya eos kerja tenaga kerja kita,” tutup R Sylvanus Syahrin.(Asep)

image_print
Menampilkan lebih banyak
Close