Gubernur Heran Titik Api Muncul di Lokasi Baru

Gubernur Kalteng di didampingi pejabat terkait, saat berdiskusi bersama awak media meminta masukan informasi untuk mengatasi Karhutla, di ruang rapat Sekda Kantor Gubernur Kalteng, Rabu (18/9).(Media Dayak/Yanting).

Palangka Raya, Media Dayak

         Kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi di daerah ini, khususnya  sekitar kota Palangka Raya membuat kabut asap mengepung ibu kota provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran mengaku heran, pasalnya selalu ada laporan dalam grup WhartsAppnya terjadi kebakaran di lahan-lahan baru dan terjadi malam hari.

“Bila kebakaran di titik sudah dipadamkan kembali ada api, itu hal yang tidak aneh. Karena gambut mungkin saja tidak padam semuanya/seutuhnya sampai kedalaman. Tetapi ini terjadi kebakaran di tempat baru lagi dan seringnya kejadian pada malam,” jelas Gubernur.

Hal tersebut menjadi pertanyaan Gubernur, sehingga pihaknya akan menyelidiki hal tersebut. Gubernur pun meminta kesadaran masyarakat Kalteng untuk menjaga lahan masing-masing sehingga tidak terjadi kebakaran.

“Sekarang ini semua menjadi korban menghirup udara tidak sehat. Banyak orang terpapar korban infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena asap, termasuk wartawan,” kata Gubernur dalam diskusi bersama awak media, di ruang rapat Sekda Kantor Gubernur Kalteng, Rabu (18/9).

Gubernur juga menyebut, kemarau tahun 2016 sampai 2018 tidak sama, masih ada hujan. Hal itu Sugianto jelaskan ketika disinggung ketika tahun 2019 dianggap lebih parah dari tiga tahun belakangan ini. 

“Sekarang benar-benar musim kering, (Tahun 2019, Red) prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau lebih kering terasa panas terik dari pada tahun sebelumnya,” urainya.

Dikatakan Gubernur, salah satu faktor penyebab kekeringan itu adalah akibat fenomena El Nino, yang merupakan fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Dampak dari El Nino yang terjadi di sejumlah daerah Indonesia adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan.

“Fenomena El Nino bersamaan dengan musim kemarau, sekarang lebih kering,” ucap Gubernur. Gubernur menyebut kondisi kemarau tahun 2019 hampir nyaris mirip dengan tahun 2015, di mana-mana langit kuning karena terjadi kebakaran lahan.

“Ke depan, kita akan berkaca dari pengamatan 2019. Maka dari itu saya selalu mengumpulkan seluruh kepala dinas, termasuk wartawan meminta masukan positif langsung kerjakan di lapangan. Agar Karhutla jangan sampai seperti 2015 dan 2019,” tegas Gubernur.

Lebih lanjut Gubernur kembali menyebutkan, saat ini tim dari TNI, Polri, satgas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi dan Pemadam Kebakaran (BPBDP-PK), provinsi/kabupaten/kota dan kehutanan semua sudah berkerja di lapangan memadamkan api. 

“Kami terus menambah alat  domping yang kuat untuk penyemprot  air pemadam dibawa oleh tim ke lokasi Karhutla. Baik berkapasitas berat mesin 16 ton, 10 ton sampai 5 ton semua ditambah per unit,” jelasnya.

Bahkan Gubernur mengkau Pemprov Kalteng telah menyurati Presiden RI  Joko Widodo untuk kembali meminta bantuan pemadaman Karhutla, baik dari helikopter sampai peralatan lainnya. “Tidak ada kata menyerah melawan karhutla,” pungkas Gubernur Kalteng.(YM)

image_print
Menampilkan lebih banyak
Close